{"id":266,"date":"2025-07-07T08:19:24","date_gmt":"2025-07-07T08:19:24","guid":{"rendered":"https:\/\/sapikiran.com\/?p=266"},"modified":"2025-07-07T08:19:24","modified_gmt":"2025-07-07T08:19:24","slug":"terbunuhnya-seorang-imam-tua-di-subuh-buta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sapikiran.com\/?p=266","title":{"rendered":"TERBUNUHNYA SEORANG IMAM TUA DI SUBUH BUTA"},"content":{"rendered":"<p>Cerpen Fadlillah Malin Sutan<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>TERBUNUHNYA SEORANG IMAM TUA DI SUBUH BUTA<\/p>\n<p>Oleh Fadlillah Malin Sutan<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Teringat olehku, satu kali, aku duduk di palanta Surau Angku Tapa. Aku membaca <em>Madilog<\/em> karya Tan Malaka, tokoh yang terkenal itu. Dulu buku tersebut terlarang beredar. Aku membacanya di sudut surau. Tiba-tiba aku dihampiri Mak Wan, garin tua itu. Dia menanyakan, dari mana aku mendapatkan buku yang dulu terlarang itu. Aku katakan, aku pinjam dari temanku. Dia menatapku dengan tajam.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\u201cHah, jangan kau baca pulalah buku itu!\u201d<\/p>\n<p>\u201cMengapa begitu?\u201d<\/p>\n<p>\u201cKau tahu, saya enam tahun tidak sholat, puasa, akibat membaca buku itu.\u201d<\/p>\n<p>\u201c<em>Hah<\/em>.\u201d<\/p>\n<p>\u201cIya, &#8230; apakah kau tamat madrasah?\u201d<\/p>\n<p>\u201cYa<em>.<\/em>\u201d<\/p>\n<p>\u201cHmm, kalau begitu <em>ndak<\/em> apa-apa, bacalah, tapi hati-hati,&#8230; tetap kau imbangi dengan membaca buku-buku agama, seperti buku karya Hamka dll., dan selalulah memperdalam ilmu agama.\u201d<\/p>\n<p>\u201cMengapa begitu, Mak?\u201d<\/p>\n<p>\u201cAku dulu, tamat sekolah umum, minim agama, buku itulah yang mempengaruhi aku, sehingga aku berhenti sholat selama enam tahun,&#8230; \u00a0aku tidak punya pengetahuan agama yang akan dapat menetralisir pemikiran buku itu. Setelah aku kembali belajar pengetahuan agama, baru bisa aku menjawab, pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang kehidupan dari buku itu, tentang takdir, Tuhan, logika, materi dan dialektika.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\u201cLama aku mencari guru dan ustadz untuk mendapatkan jawaban, enam tahun, akhirnya aku mendapat jawaban dari Buya Syarbaini, bagaimana umur dan rezki itu sama panjang, bagaimana kedudukan logika, materi, dan dialektika sesungguhnya. Aku menyesal dulu tidak sekolah di madrasah.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kami <em>ngobrol<\/em> panjang di sudut surau. Beliau memang teman <em>ngobrol<\/em>ku tentang politik, filsafat dan agama. Biasanya, kami diskusi selepas magrib menunggu datang waktu Isya. \u00a0Kami sering menikmati sore dengan secangkir kopi dan ditemani kretek. Kami sama-sama penyuka kopi tanpa gula. Dari dialah aku tahu cara membuat minuman kopi dengan rempah-rempah. Dia meramu kopi dengan kulit manis, cengkeh, ketumbar, lada hitam, daun pandan dan jahe, serta seangin garam, kadang dengan kunyit atau bawang putih hitam.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Beliau menghabiskan masa tuanya jadi garin dan imam sholat di surau Angku Tapa, setelah bercerai dengan istrinya. Dia juga mengisi hari-harinya\u00a0 dengan menjadi dai di beberapa surau dan masjid.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dulu dia pedagang rokok daun nipah tembakau Payakumbuh. Berdagang dari <em>balai<\/em> ke <em>balai<\/em>, <em>balai<\/em> Selasa, Rabaa dan <em>balai<\/em> Kamih. Hari Jumat dia istirahat berdagang keliling. Setelah masa surut perdagangan rokok tembakau tradisi, dia pensiun berdagang. Di masa surut ekonomi itulah istrinya minta cerai. Setelah bercerai, kemudian dia memutuskan untuk mengisi hari tuanya\u00a0 menjadi garin di surau.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Surau Angku Tapa cukup ramai dipenuhi anak-anak dan pelajar membaca buku. Karena dia menjadikan dinding surau penuh dengan buku. Dia pencinta buku, dia menghimpun sumbangan buku dari jamaah dan perantau. Dapat dikatakan surau itu jadi perpustakaan. Koleksi bukunya banyak, mulai dari buku agama, sejarah, politik, filsafat sampai buku anak-anak. Aku kagum dan inilah yang membuat aku sering ke surau ini.<\/p>\n<p>Di depan surau, ada kolam yang jernih, diisi dengan \u00a0ikan nila, mujair dll. Di sekeliling surau\u00a0 ditanami dengan pohon buah-buahan yang cukup banyak dan ada lapangan anak-anak bermain, berolah raga dan berlatih Silat Kumango dan Silat Lintau. Dengan demikian, udara di surau itu sejuk dan adem.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Satu kali dia bercerita, bahwa bangsa ini dimerdekakan hanya dengan sebatang rokok kretek.<\/p>\n<p>\u201cKamu tahu, peristiwa diplomasi Agus Salim\u201d<\/p>\n<p>\u201cMaksud Mamak, bagaimana?\u201d<\/p>\n<p>\u201cKalau kamu baca sejarah, bagaimana Agus Salim dengan sebatang kretek membuat raja Inggris tidak berkutik. Agus Salim bilang pada raja Inggris, dalam gulungan kretek ini ada cengkeh, tembakau dan rempah-rempah yang membuat Tuan menjajah negeri kami. Begitu juga ketika diplomasi di Konferensi Meja Bundar, Haji Agus Salim merokok di sana, para pemimpin negara-negara barat itu jengkel, terutama negara Belanda. Kembali <em>The Grand Old Man<\/em> itu mengatakannya, karena cengkeh, tembakau dan rempah-rempah ini kalian menjajah. Sehingga semua bertepuk tangan kecuali Belanda yang malu. Sudahlah kalian tandatangani saja pengakuan itu, kata Agus Salim. Akhirnya Indonesia diakui, hanya dengan sebatang rokok, Indonesia merdeka.. hehehe,\u201d katanya terkekeh.<\/p>\n<p>\u201cTidak ada diceritakan guru di sekolah itu Mak.\u201d<\/p>\n<p>\u201cMemang\u2026, tahu kau, M. Natsir, Hamka, Soekarno, Haji Agus Salim, itu perokok. Kemudian, bangsa ini pun dibiayai kehidupannya oleh rokok dengan pajak terbesar, sampai kini, akan tetapi rokok dikutuk dan dibenci oleh bangsa ini, bukankah ini tidak membalas guna, durhaka, Malin Kundang. Pantas negara seperti ini sekarang.\u201d<\/p>\n<p>Kemudian dia bercerita tentang keluarganya.<\/p>\n<p>\u201cSelama ini aku membiayai hidup istriku dengan nafkah berdagang rokok, sehingga kubelikan dia rumah, sawah, ladang dll. Tahu-tahu dia menganut paham pengharaman rokok dan fanatik dengan kesehatan modern. Di masa badan sudah tua ini, dipecatnya aku jadi suaminya, karena aku perokok\u2026 hehehe,\u201d katanya sambil tertawa dan di sudut matanya ada linangan air bening.\u201d<\/p>\n<p>Aku terdiam.<\/p>\n<p>Dia menghisap rokok kreteknya dan kemudian meneguk kopi. Dia mengatakan bahwa dia berasal dari keluarga perokok. Kakek neneknya adalah perokok, berusia panjang, bahkan ada yang sampai seratus tahun. Secara tradisi, katanya, orang yang hidup di pinggang gunung yang dingin ini adalah perokok, <em>penyirih<\/em>, dan pengopi. Kemudian zaman sudah berubah, ketika masuk zaman modern semua tidak seperti dulu lagi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kini Mak Wan tinggal kenangan. Ketika aku sedang berada di kota, aku mendapat kabar bahwa beliau sudah wafat. Kata polisi, beliau ditusuk oleh orang gila ketika sedang jadi imam sholat subuh. Kudengar, ramai orang kampung mensholatkan jenazahnya setelah sholat Jumat. Rasanya aku ingin cepat pulang untuk ziarah ke kuburannya. <em>Alfatihah<\/em>. <em>Wallahu a\u2019lam bisswab<\/em>. ***<\/p>\n<p>Surau Sastra Hamka, Limau Manih, 19062025.-<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div dir=\"auto\">*) Cepen TERBUNUHNYA SEORANG IMAM TUA DI SUBUH BUTA<\/div>\n<div dir=\"auto\">ini sudah dimuat di harian SINGGALANG Minggu \u00bb 6 Juli 2025 (10 Muharram 1447 H) \u00bb Halaman 4<\/div>\n<div dir=\"auto\"><\/div>\n<div dir=\"auto\"><img data-dominant-color=\"dcdcdd\" data-has-transparency=\"false\" style=\"--dominant-color: #dcdcdd;\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-267 aligncenter not-transparent\" src=\"https:\/\/sapikiran.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-05-at-06.35.52-135x300.avif\" alt=\"\" width=\"621\" height=\"1380\" srcset=\"https:\/\/sapikiran.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-05-at-06.35.52-135x300.avif 135w, https:\/\/sapikiran.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-05-at-06.35.52-247x550.avif 247w, https:\/\/sapikiran.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-05-at-06.35.52-225x500.avif 225w\" sizes=\"auto, (max-width: 621px) 100vw, 621px\" \/><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cerpen Fadlillah Malin Sutan &nbsp; TERBUNUHNYA SEORANG IMAM TUA DI SUBUH BUTA Oleh Fadlillah Malin Sutan &nbsp; Teringat olehku, satu kali, aku duduk di palanta Surau Angku Tapa. Aku membaca Madilog karya Tan Malaka, tokoh yang terkenal itu. Dulu buku tersebut terlarang beredar. Aku membacanya di sudut surau. Tiba-tiba aku dihampiri Mak Wan, garin tua [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_crdt_document":"","om_disable_all_campaigns":false,"_uf_show_specific_survey":0,"_uf_disable_surveys":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[18],"tags":[],"class_list":["post-266","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-cerpen"],"aioseo_notices":[],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sapikiran.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/266","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sapikiran.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sapikiran.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sapikiran.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sapikiran.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=266"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sapikiran.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/266\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":268,"href":"https:\/\/sapikiran.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/266\/revisions\/268"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sapikiran.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=266"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sapikiran.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=266"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sapikiran.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=266"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}